Header Ads

Ekonomi Warga Pribumi Hancur Akibat Dampak Debu Dari Aktivitas Truk Perusahaan Tambang PT RUBS

LAHAT, SS - Warga Desa Gedung Agung, Kecamatan Merapi Timur, Lahat, Kartini (45) terpaksa mengadukan nasibnya ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lahat, lantaran kompensasi dampak debu dari PT. RUBS yang bergerak dipertambangan batu bara sejak tahun 2016 belum menerimanya.

Akibat dampak debu yang dihasilkan dari aktivitas angkutan pertambangan PT RUBS, kini usaha dagang milik Kartini terpaksa tutup karena tidak ada lagi pembeli yang mau mampir karena kumparan debu menyelimuti warungnya.

"Usaha saya terpaksa tutup, karena tidak ada lagi yang mau mampir ke warung saya. Siapa yang mau makan atau minum dalam keadaan berdebu padahal saya menghidupi ke-4 anak dari hasil berdagang inilah," keluhnya.

Untuk itu, dia mengharapkan pihak terkait dapat membantu menyelesaikan persoalan yang tersebut. Sebab pihak PT RUBS sendiri lanjutnya, seakan tidak peduli dengan nasib perekonomian yang dialami akibat dampak debu yang dihasilkan dari aktivitas mobil perusahaan.

"Saya sudah beberapa kali menyampaikan ke pihak PT. RUBS soal kompensasi dampak debu ini. Tapi hingga sekarang tidak ada tanggapan. Sebagai orang pribumi, saya tak berdaya dan hanya pasrah. Keberadaan perusahaan tambang di Lahat bukan membuat perekonomian semakin membaik tapi sebaliknya tambah menghancurkan perekonomian keluarga saya," ucapnya dengan nada lirih.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lahat Ir H Misri MT melalui Kasi Pengaduan dan Sengketa Lingkungan DLH Lahat, Rosivelt Erwin SE MM ketika di konfirmasi telah menerima pengaduan tersebut.

Dia berjanji dalam waktu dekat ini akan segera memfasilitasi serta memanggil pihak PT RUBS untuk menengahi persoalan ini.

"Laporan dari Ibu Kartini sudah kita terima dan kita agendakan pada tanggal 24 April 2019 mendatang pihak PT RUBS untuk datang ke DLH. Kita cari solusi terbaik antara pihak PT RUBS dengan Ibu Kartini," tegasnya.

Sebelumnya pada hari Rabu tanggal 10 April 2019, Humas PT RUBS, Sugiono ketika dikonfirmasi telah mengakomodir keluhan dampak debu yang dialami Kartini. Namun Sugiono sendiri mengaku tidak dapat memutuskan terkait persoalan ini.

"Keluhan Ibu Kartini saya tampung dan akan saya sampaikan ke pimpinan PT. RUBS," ungkap Sugiono.(Fry)

1 komentar:

  1. Ini harus diperhatikan agar masyarakat tidak terganggu oleh dampak penambangan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.