Header Ads

Jepang di Palembang : Seputar Ambisi, Kekejaman, dan Kekalahan

Arafah Pramasto, S.Pd
Oleh :
Arafah Pramasto,S.Pd.* & Noftarecha Putra,S.Pd.**

“Negeri Sakura” atau “Negeri Matahari Terbit” adalah sebutan bagi Jepang, salah satu negara maju di dunia yang berada di benua Asia. Bunga Sakura sebagai keindahan ikonik negeri ini, terefleksikan dalam kekaguman bangsa-bangsa di dunia pada kemajuan Jepang dalam bidang kesenian maupun budayanya. Tak asing lagi bagi para pemuda di Indonesia masa kini dalam menikmati karya-karya seni asal Jepang seperti menonton anime, mendengarkan musik beraliran J-Pop, atau sekadar ingin berpenampilan ala Harajuku Style. “Matahari Terbit” yang tergambar pada bendera Jepang seakan menggambarkan prospek dari kemajuan teknologi dalam bidang perindustrian. Berapa banyak merk dari bermacam kebutuhan hidup masyarakat Indonesia yang berasal dari Jepang ? Tentu tidak sedikit jumlahnya.

Noftarecha Putra, S.Pd
Tanpa menafikan fakta-fakta kontemporer di atas, ada urgensi lain yang harus dibina ialah pandangan yang menyeluruh agar mampu melahirkan sikap bijak dalam diri generasi Indonesia masa sekaran di seluruh pelosoknya. Palembang, sebagai salah satu kota penting sejak masa penjajahan Belanda turut mengalami fase sejarah yang berhubungan dengan Jepang. Negeri Sakura di masa itu merupakan kekuatan militer yang mengagumkan. Namun sebagai “Matahari Terbit” di Asia, militer Jepang pernah melepaskan “cahaya panasnya” hingga ke pinggiran Sungai Musi di Pulau Sumatera. Tulisan ini akan sedikit mengulas tentang bagaimana kondisi Palembang sebelum kedatangan balatentara Jepang hingga kemudian diduduki oleh Dai Nippon, sampai nantinya Jepang kalah dan Indonesia menyaksikan “Matahari Terbit” yang sebenarnya dengan kumandang proklamasi pada tahun 1945.

 

1.    Palembang Sebelum Kedatangan Jepang : Oedjan Mas dan Pergerakan
Penghapusan Kesultanan Palembang yang berdaulat pada tahun 1825 telah menandai bahwa wilayah ini telah berubah menjadi daerah jajahan pemerintah Hindia Belanda. Pra kondisi yang diperlukan bagi kepentingan politik dan ekonomi Belanda di Palembang baru mulai terbentuk pada tahun-tahun antara 1875-1907. Tentu wilayah ini memiliki nilai ‘berharga’ di mata penjajah eksploitatif seperti Belanda yang membutuhkan kekayaan alamnya. Keberadaan minyak di Palembang telah dapat dilacak sejak era 1865 saat masyarakat lokal memakainya untuk dempul perahu, Palembang menjadi paling populer di kepulauan Hindia Belanda untuk prospek minyaknya pada akhir 1890-an . Penelitian / eksplorasi batubara dilakukan di Sumatera Selatan tepatnya di Bukit Asam pada tahun 1915-1918, dan pada tahun 1919 dibuka tambang batubara Bukit Asam . Kekayaan alam dan kendali kolonial yang telah dikonsolidasikan pada rentang waktu itu untuk selanjutnya mengalami perkembangan pesat sehingga sejak menapaki era 1930-an, kawasan ini mengalami Oedjan Mas (Hujan Emas) yang berarti memperoleh kemakmuran ekonomi.

Tak pelak lagi, Palembang mempunyai posisi penting yang menghubungkan jalur niaga Singapura-Batavia sehingga disebut sebagai Wingewesten atau ‘Daerah Oentoeng’. Kemajuan ekonomi ialah seperti magnet yang menarik berbagai pengaruh luar ke suatu tempat, hal tersebut tidak sebatas hanya seputar pemenuhan kebutuhan hidup karena akhirnya pada masa ini pula Sumatera Selatan dianggap penting dalam peta dunia pergerakan nasional. Konsekuensinya ialah pemerintah Hindia Belanda memperkuat kendali pengawasan pada daerah ini dengan adanya alat-alat kolonial seperti Algemenee Recherche Dienst (ARD / Dinas Penyelidikan Umum) di bidang intelijen , Palembang juga menjadi pusat komandemen Cultuur Politie (Polisi Perkebunan) maupun KNIL (Militer) yang membawahi wilayah hingga ke Riau.

Nilai strategis kota Palembang tersebut mendapat perhatian dari gerakan nasionalisme di Jawa. Pada Januari 1934, dibentuk komisi persatuan Boedi Oetomo dan PBI (Persatoean Bangsa Indonesia) yang menyetujui keduanya melakukan fusi. Kongres peresmian fusi pada pertengahan tahun 1935 sekaligus merupakan kongres terakhir Boedi Oetomo melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra) . Melihat bahwa pergerakan nasional di Palembang harus terus berjalan meski di bawah pengawasan kolonial yang ketat, Parindra sebagai partai co. (kooperatif) didirikan di Palembang tahun 1936 oleh dr. Maas, seorang dokter mata dan aktivis berdarah Minangkabau lulusan STOVIA Batavia. Tujuan pendirian ini juga terkait keinginan menyebarkan paham politik moderat setelah sebelumnya Hindia Belanda terguncang oleh Pemberontakan PKI 1926 yang mengakibatkan tekanan menyeluruh pada kaum pergerakan non-Komunis.

Menyusul kedatangan dr. Maas, seorang dokter Minangkabau lainnya yakni drg. M. Isa (lulusan STOVIT Surabaya) yang sempat menjadi asisten dosen karena kecerdasan akademiknya, menemukan gelora nasionalisme sejak memilih bergabung dengan Parindra di Surabaya. Tahun 1938, drg. M. Isa minta berhenti dan memilih untuk menjadi dokter  partikelir di kota Palembang . Popularitas Parindra sebagai partai kooperatif kian menanjak dan berhasil mendominasi Palembangraad pada tahun 1939 Perpolitikan kalangan pribumi masa itu benar-benar “hidup” karena dipenuhi tokoh-tokoh intelektual. Untuk menjadi “koreksi garis kiri” terhadap “garis kanan” Parindra, didirikanlah  Partai Gerindo cabang Palembang tahun 1941 oleh seorang dokter  lulusan STOVIA lainnya yang masih pula berdarah Minangkabau bernama dr. A.K. Gani.

2.    Ambisi hingga Kekejaman Jepang
Awal penyerbuan militer Jepang ke Palembang tidak secara praktis hanya disebabkan oleh peperangan yang telah dikobarkan oleh ‘Negeri Matahari Terbit’ ini sejak tahun 1941 dalam tater Perang Pasifik sebagai bagian Perang Dunia II. Faktor yang memotivasi Jepang untuk melakukan perang pendudukan atas wilayah-wilayah di Asia Tenggara (secara umum) yang masih terjajah oleh kekuatan Barat sesungguhnya lebih awal terbentuk meskipun fakta ini jarang diulas secara mendalam oleh para Sejarawan. Menguatnya paham militerisme Jepang harus dikontekstualisasi pada dekade 1920-1930. Memasuki tahun 1920-an, Irish Chang – sejarawan ahli sejarah militer Jepang modern – menyebut masa ini sebagai “Runtuhnya Tirai Kemakmuran Jepang” tatkala usainya Perang Dunia I, permintaan produk persenjataan Jepang banyak dihentikan. Banyak pabrik-pabrik persenjataan ditutup, belum lagi gempa bumi hebat yang melanda di bulan September 1923 dan pembengkakan populasi sejak masa Restorasi Meiji dari 30 juta menjadi 65 juta jiwa pada tahun 1930. Jepang melalui para tokoh militernya melihat ada “Tiga Pintu” untuk keluar dari peliknya kondisi ekonomi. “Pintu  Pertama” ialah imigrasi yang terhalang oleh kebijakan Anti-Jepang oleh negara lain, “Pintu Kedua” adalah terjun  ke pasar dunia namun terkendala oleh rintangan tarif serta pencabutan perjanjian niaga, dan yang masih terbuka adalah “Pintu Ketiga” yakni ekspansi teritori.

Para Bapak Bangsa seperti Bung Karno dan Tan Malaka telah meramalkan perang yang akan berkecamuk antara Jepang melawan negara-negara Barat. Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat (1930) menyindir para nasionalis kolot yang memandang kagum seolah Jepang akan membebaskan Asia dari penjajahan Barat . Lebih awal lagi, Tan Malaka dalam buku Naar de Republik Indonesia (1925) meyakini bahwa latihan-latihan perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda di Pasifik ialah untuk menghadapi kemungkinan perang antara Amerika Serikat dan Jepang . Palembang adalah minyak, batubara, dan hasil bumi yang melimpah untuk kebutuhan perang Jepang. Maka tak heran saat kemudian Perang Pasifik berkecamuk, Belanda akan terkena dampak karena Hindia Belanda jajahannya sangat bernilai untuk direbut oleh Jepang.

Invasi militer pertama oleh Kekaisaran Jepang ke Palembang dimulai pada tanggal 23 Januari 1942, penyerangan tersebut berupa pengeboman udara terhadap Bandara Militer Pangkalan Benteng Palembang. Pada tanggal 13 Februari 1942, armada Jepang telah mendaratkan pasukannya di Pulau Bangka sebagai pangkalan untuk menuju sasaran utama : Palembang . Sehari setelahnya, Jepang melanjutkan serangan dengan dukungan 115 pesawat yang diterbangkan dari Muntok  beserta penerjunan pasukan parasut ke Bandara Pangkalan Benteng, kilang minyak Plaju serta kilang N.K.P.M. (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Soengaigerong . Pada tanggal 14 Februari 1942 Jepang memasuki kota Palembang melalui pendaratan di Sungai Musi disertai penerjunan Pasukan Payung pimpinan Kolonel Kume Seichi dari pesawat Kawasaki Ki-56, beserta penyerangan oleh 18 pesawat bomber Ki-21.

Serangan terakhir telah menyebabkan kepanikan bagi pasukan KNIL yang mempertahankan kota, mereka sulit untuk menentukan langkah selanjutnya : terus berperang atau mundur dan mengevakuasi warga sipil (Belanda, Indo-Belanda dan Eropa) atau membiarkan mereka tetap tinggal dalam kota . Palembang akhirnya jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 15 Februari 1942 . Tanggal 16 Februari, Jepang berhasil mengamankan Palembang sebagai salah satu objektif dalam perang mereka. Militer Belanda dengan KNIL-nya yang hanya “garang” memberangus perlawanan pribumi lokal Nusantara, terbukti tidak mampu melawan Jepang. Tidak sampai satu bulan setelah jatuhnya Palembang, pada 1 Maret 1942 Belanda menyerah kepada pemerintah militer Jepang.

Pada rakyat yang mereka duduki, Jepang sering melakukan pelanggaran HAM yang menimbulkan antipati. Namun, seperti umum terjadi pada rakyat di seluruh Indonesia, tidak banyak yang dapat dilakukan karena Jepang bertindak sangat kejam dan represif. Sebuah contoh kekejaman mereka ialah penangkapan para pemimpin rakyat Palembang seperti dr. A.K. Gani, A.S. Mattjik, dr. Supaat, Abdul Rozak, M. Basri, serta puluhan lainnya termasuk Yap Thiam Hoo (tokoh Tionghoa) dan Bung Titaley (tokoh Maluku). Penyiksaan terjadi amat hebat pada mereka hingga contohnya Bung Titaley sampai gugur menemui ajalnya. dr. A.K. Gani ialah yang terberat menerima tuduhan-tuduhan kejahatan politik seperti “mengadakan gerakan klandestin”, menyudutkan Jepang yang menyerang Cina pada tahun 1938 dalam pernyataan politiknya, menjadi mata-mata sekutu, dan menumpuk obat-obatan dengan niat jahat. Faktanya, A.K. Gani hanya cenderung berkeberatan untuk  memasyarakatkan propaganda Jepang.

3.    Jepang Mulai Kewalahan
Kemenangan Jepang pada Belanda hanya kejayaan sesaat. Sebagai negara Fasis, Jepang dikeroyok sekutu seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia. Negara-negara itu bernasib seperti Belanda yang kehilangan tanah jajahan akibat agresi militer Jepang. Bagaimanapun Jepang harus menerima bahwa Perang Pasifik malah melumat bangsanya sendiri hingga mereka terdesak, maka kini malah perlu bagi mereka untuk menarik simpati rakyat lokal. Menjelang akhir tahun 1943, Jepang menemui drg. M. Isa dan mendiskusikan pembentukan Dewan Harian Kota atau Syu Sangi Kai. M. Isa menegaskan, “Jika dr. Gani tidak ada itu tidak akan berjalan dengan baik. Karena  faktor keberadaan dr. A. K. Gani sangat penting disini.” Akhirnya pada bulan Oktober di tahun yang sama, dr. A.K. Gani dibebaskan. M. Isa sangat mengerti bahwa kekalahan Jepang tidak akan lama lagi, tindakannya itu menjadi modal besar untuk masa berikutnya.

Pada tahun 1944 Jepang membentuk “Barisan Sukarela” atau yang disebut Gyugun sebagai persiapan mendapatkan dukungan kekuatan militer dari para pemuda Indonesia melawan Sekutu. Perkembangan ini sangat urgen dalam sejarah Sumatera Selatan karena melalui sosok drg. M. Isa-lah yang kala itu menjabat sebagai ketua Syu Sangi Kai, pola “Kemanunggalan” Sipil-Militer mulai “dibibit”. M. Isa adalah tokoh dari Partai Parindra yang memiliki organisasi kepanduan Surya Wirawan, tidak mengherankan jika ia telah dikenal luas oleh kalangan pemuda. M. Isa menganjurkan para pemuda untuk ikut dalam perekrutan Gyugun karena dalam hematnya, para pemuda akan mendapatkan pelatihan dasar-dasar kemiliteran. Tidak sia-sia usaha M. Isa untuk menarik minat kaum muda ini, barisan ini menjadi wadah juang yang militan.

4.    Penutup : Kekalahan Jepang di Palembang
Keadaan di Palembang sendiri terasa mencekam sejak awal bulan Agustus 1945 karena dihantui adanya serangan mendadak dari pesawat-pesawat Sekutu yang mulai melakukan serangan balasan terhadap posisi Jepang di Palembang. Masyarakat umum menerima adanya desas-desus bahwa Jepang akan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap kaum pejuang seperti yang terjadi di Kalimantan. Pada tingkat akar rumput, isu tersebut sedikit banyak mengalihkan perhatian mereka dari gelora kebahagiaan proklamasi republik yang didengungkan di Jawa. Para tokoh pergerakan di Palembang telah mendengar berita proklamasi 17 Agustus 1945 dari Mailan yang saat itu menjadi operator Radio Palembang Shimboen. dr. A.K. Gani, drg. M. Isa, Abdul Rozak, Nungtik AR, maupun Raden Hanan segera mengambil tindakan untuk bernegosiasi dengan Jepang. Dalam pertemuan tanggal 22 Agustus 1945 antara Syu Tyokan Miyako Tosio (Pemimpin Tertinggi Balatentara Jepang di Palembang) dengan tokoh-tokoh lokal yang duduk di Syu Sangi Kai di kawasan elit Talang Semut, para pemimpin tentara Jepang mengumumkan secara resmi bahwa kekaisaran mereka telah menyerah pada pihak Sekutu delapan hari sebelumnya.

Beberapa hal yang perlu dicatatkan dalam peristiwa kekalahan Jepang itu, bangsa Indonesia menunjukkan keluhuran yang luar biasa. Para pemimpin Palembang di bawah dr. A.K. Gani berhasil dengan taktik diplomasinya yakni mengirimkan bahan makanan dan sayur-sayuran serta jaminan keamanan jika pihak Jepang bersedia dengan pihak Republik. Faktanya, Jepang menerima tawaran tersebut. Inilah prestasi gemilang yang telah diraih oleh tokoh-tokoh Palembang dan ini merupakan modal besar dalam proses pengambilalihan “tinggalan Jepang” berupa berbagai sarana sebelum Sekutu tiba di Palembang pada akhir bulan Oktober 1945. Di masa-masa awal proklamasi itu, anak-anak muda Sumatera Selatan yang dididik oleh Gyugun  menjadi cikal-bakal terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat di Sumatera Selatan. dr. M. Isa memainkan peranan sebagai tokoh sipil disini, sehingga para pemuda mendapatkan manfaat ilmu dan pengalaman perang Jepang guna menjadi bekal mempertahankan kemerdekaan. Lebih jauh lagi, kita juga harus melihat bagaimana negeri militeristik seperti Jepang di era 1920-1945 akhirnya “bertaubat” dari nafsu penjajahan dan malah tampil sebagai bangsa yang disegani keindahan dan kemajuannya. Makna paling utama di masa kini adalah tanah Sumatera Selatan yang kaya raya harus menjadi motivasi bagi generasi kini dan mendatang untuk selalu siap berkontribusi sebagaimana para pahlawannya. Sedangkan dari Jepang yang pernah menjajah tanah ini di masa silam, kita perlu belajar untuk menjauhi kekerasan, kemauan terus belajar, dan tidak malu membenahi kesalahan-kesalahan.

Referensi Tulisan
Akbar, Akbar, Memata-matai Kaum Pergerakan : Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda, Tangerang Selatan : Marjin Kiri, 2013.
Baumeister, Irene Kusnadi, F.W. Baumeister, Dutch POW: diary (1942-1946), during and after the Japanese domination, Materi Penelitian diberikan Kepada Roger Mansell (Tidak Diterbitkan), Palo Alto : www.mansell.com, 2008.   
Dias, Rob, The Indo Story, Amsterdam : www.Indodutchgoogle.com, 2008.
Kamandoko, Gamal, Boedi Oetomo : Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa, Yogyakarta : Media Pressindo, 2008.
Kennedy, John R., Command in Joint and Combined Operations: The Campaign for the Netherlands East Indies, Monograph Tidak Diterbitkan, Kansas : School of Advanced Military Studies United States Army Command and General Staff CollegeFort Leavenworth, 1990.
Locher-Scholten, Elisabeth, Sumatran Sultanate and Colonial State : Jambi and the Rise of Dutch Imperialism 1830-1907 , New York : Cornell Southeast Asia Program Publication, 2003.
Malaka, Tan, Naar de Republik Indonesia, Bandung : Sega Arsy, 2014.
Matanasi, Petrik, Sejarah Tentara, Yogyakarta : Narasi, 2011.
Pramasto, Arafah, “Pemberontakan Sarikat Abang”, dalam Tribun Sumsel 12 Juli 2017.
Sukandarrumidi, Batubara dan Pemanfaatannya : Pengantar Teknologi Batubara Menuju Lingkungan Bersih, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2006.
Tim, Data Sejarah Perjuangan Sumbagsel, Palembang : Yayasan Bhkati Pejuang, 1986.
Tim, Tokoh Pejuang Kemerdekaan RI Sumatera Selatan : H. Abdul Rozak, Palembang : t.p., 2008.
Tono, Suidi (Ed.), Mahakarya Soekarno-Hatta, Jakarta : Vision03, 2008.
Tucker, Spencer  C. (Ed.), World War II the Definitive Encyclopedia and Document Selection, California : ABC-CLIO, 2016.
Yuarsa, Feris, Mohammad Isa : Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2016.
Zed, Mestika, Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950, Jakarta: Pustaka LP3ES Indoneisa, 2003.

NB : Substansi artikel ini adalah tanggung jawab penulis terkait sepenuhnya, untuk kritik dan saran dapat langsung mengirim email ke: ggsejarah@gmail.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.