Header Ads

Dua Ironi : ‘Neo-Sutarto’ Sebagai Arah Baru Unsri

Oleh :
Arafah Pramasto,S.Pd.
(Penulis Buku Kesejarahan dan History Blogger asal Palembang)

1. Dua Ironi : Kagum ISIS dan Pembunuhan Driver Taxi Online
Sebanyak 3000 alumni Universitas Sriwijaya datang untuk memeriahkan Reuni Akbar pada 31 Maret 2018 kemarin. Dalam acara itu terdapat pula agenda pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Unsri (IKA Unsri), yang mana Agung Firman Sampurna yang kerap dipanggil AFS (Pejabat Auditorat Utama BPK) dipilih secara aklamasi sebagai ketua. Visi dan misinya yang diusung oleh AFS ialah Coniugit, Illuminate, Confirma / “Menyatukan-Menginspirasi-Menguatkan.”[1] Sayangnya, di hari yang sama diperoleh berita bahwa rektor Universitas Sriwijaya memberikan statement akan memberhentikan Tyas Dryantama (21), mahasiswa Unsri dengan IPK pas-pasan (2,62) yang menjadi tersangka kasus pembunuhan seorang Driver taksi online bernama Tri Widyantoro (43).[2] Pemberitaan yang kedua adalah ironi bagi sebuah perguruan tinggi yang berdiri dengan penuh semangat patriotisme seperti Unsri. Berdasarkan sejarahnya, drg. Mohammad Isa selaku gubernur pertama Sumatera Selatan yang dikenal gigih sebagai pejuang sipil sejak masa kolonial, mengusahakan berdirinya “Perguruan Tinggi Sjakhyakirti” sebagai cikal bakal Universitas Sriwijaya. Mohammad Isa di era 1950-an yang rentan itu berhasil menghimpun bantuan dari para pengusaha Palembang dan dukungan dari Perkumpulan Perusahaan Penggiling Para Palembang (P5) – Para adalah istilah lain untuk ‘Karet’ – menjadi modal dasar dalam memuluskan pendirian perguruan tinggi tersebut.[3]

Masih belum lepas rasa tidak habis pikir publik atas kabar sedemikian, ada satu lagi pemberitaan lebih awal yang muncul tiga tahun silam. Apabila kasus Tyas berkaitan dengan pembunuhan / penghilangan nyawa seseorang, tahun 2015 lalu publik diramaikan oleh dua mahasiswa Unsri yang menjadi simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), salah satunya adalah perempuan berinisial ARU angkatan 2012.[4] Meski berbeda dengan tindakan keji yang dilakukan oleh Tyas, adanya mahasiswa-mahasiswi Unsri yang mengagumi ISIS ialah sesuatu yang amat disayangkan, mengingat ISIS adalah organisasi teroris yang kerap melakukan kekerasan dan menyalahgunakan nama Islam. Dua ironi itu bukanlah sesuatu yang lumrah bagi masyarakat provinsi ini, apalagi Palembang sejak abad ke-18 sampai 19 telah dikenal sebagai kota intelektual Islam.[5] Kini, kita tidak perlu memainkan saling tuding tentang siapakah yang bersalah. Di sini juga tidak akan diulas mengenai kedua peristiwa itu dalam perspektif hukum, sosial, atau psikologi. Tulisan ini berusaha menyajikan saran yang mungkin saja bisa diterapkan oleh Universitas Sriwijaya sebagai wacana baru dalam membina kepribadian para mahasiswa-mahasiswinya, agar peristiwa Tyas dan ARU tidak terulang. Saran yang dimaksud ialah gagasan bernama “Neo-Sutarto.”

2. Definisi Neo-Sutarto
Nama dari gagasan ini bukanlah nama seorang Jawa : Sutarto. Tan Malaka pernah menerangkan di dalam karyanya tentang “Jembatan Keledai”. Jembatan Keledai ialah singkatan dari awalan beberapa kata sehingga ia menuliskan karyanya “MADILOG”  yang merupakan susunan dari : (MA)-TERI, (DI)-ALECTICA, dan (LOG)-ICA.[6] Penulis sedikit banyak menirukan cara Tan Malaka dalam memncetuskan gagasan “Neo-Sutarto” sebagai gabungan dari kata-kata “(NEO-SU)-fisme, (TAR)-biyah, dan (TO)-leransi” (Kombinasi : Neo-Sufisme, Tarbiyah, dan Toleransi).[7] Gagasan – Neo-Sutarto – ini bukalah sekadar menyatukan tiga elemen disana secara terpisah, karena alur dari tiga elemen itu memiliki aspek kausalitas (sebab-akibat).

Neo-Sufisme adalah gejala pembaharuan dalam Sufisme (Tasawuf) Islam yang merombak beberapa tatanan yang sempat muncul serta bersifat destruktif, antara lain adalah masalah “asketisme ekstrim” (sikap membenci dunia) dan Manunggal Ing Kawula Gusti. Kedua masalah itu hampir saja paten dalam tatanan Sufisme apabila tidak hadir tokoh seperti Imam Al-Ghazali. Pemikir Islam modern Indonesia seperti Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Tasawuf yang penting untuk dipelajari adalah Tasawuf sebagai ajaran yang megajarkan kesalehan individual dan sosial, itu mesti dipelajari karena menjadi esensi Islam. Bukan pula Tasawuf yang menafikan kehidupan duniawi, rasionalitas intelektual, menghindari dunia peradaban modern, dan menyimpang dari Al-Quran dan Hadits.[8] Artinya Tasawuf yang diperlukan ialah pada taraf tidak menyimpang dari nilai ortodoksi dan juga tidak menghambat kemajuan manusia. Fazlur Rahman menambahkannya dengan mengimitasi kehidupan Rasulullah sebagai teladan.[9] Sufisme dibangun secara fundamental melalui sifat Zuhud Rasulullah Saw. yakni bukan membenci dunia tapi tidak terpengaruh karenanya.[10] Karenanya, Sufisme / Tasawuf dapat mencegah pembentukan diri seseorng yang berilmu namun tidak manusiawi. Karena kenampakan tidak sebatas dilihat secara eksoteris (lahiriah / nampak) namun juga esoteris (batiniah / tersembunyi). 

Elemen kedua dari Neo-Sutarto adalah Tarbiyah (Indonesia : pendidikan). Posisi Tarbiyah / pendidikan adalah sebagai perwujudan secara fisis dari pelurusan pola pikir yang telah dibentuk oleh Neo-Sufisme untuk menyeimbangkan hal-hal secara lahiriah dan batiniah. Kita tentu tidak mengharapkan para intelektual kita kelak akan membangun negeri ini dengan mencapai kemajuan, namun akhirnya malah tidak berbeda dengan pihak Barat yang bersifat imperialistis, atau tepatnya setelah Perang Dunia II mereka (Barat) cenderung ekspansionis-eksploitatif terhadap negara-negara berkembang, entah melalui beberapa cara seperti Proxy War untuk tujuan ekonomi dan tak jarang pula dengan terang-terangan melakukan kekerasan (aksi militer) kepada siapapun yang menentang kehendaknya. Dengan Tarbiyah ini diharapkan bukan hanya sekelompok intelektual saja yang mampu mengerti tentang esensi, urgensi, dan tujuan Neo-Sufisme. Kita sewajarnya mengapresiasi beberapa pemikir Islam, terutama yang berasal dari Indonesia, seperti Buya Hamka, Nurcholish Madjid, Nasaruddin Umar, ataupun Haidar Bagir yang mempopulerkan pemikiran Neo-Sufisme dan menekankan keunggulannya.

Kini dari dua elemen Neo-Sutarto telah diuraikan ; Neo-Sufisme sebagai gagasan mendasar secara mendasar yang diterapkan melalui Tarbiyah yang akan membingkai pemikiran itu secara riil melalui pendidikan. Elemen terakhir adalah Toleransi. Setelah diatas diungkapkan tentang bentuk toleransi sebagai implikasi dari dua elemen sebelumnya, tidak perlu lagi kiranya penulis menjelaskan secara panjang lebar mengenai arti Toleransi itu sendiri. Saat sekarang ini yang terpenting adalah mengetahui urgensi dan tujuan dari dua elemen itu, dimana Toleransi sebagai hasil akhir. Rasulullah Saw pernah menunjukkan teladannya dalam masalah toleransi ini ketika ia menghargai independensi Kerajaan Najran yang beragama Kristen Nestorian. Kerajaan Najran masuk dalam kekuasaan Islam melalui sebuah perjanjian perlindungan dimana rasulullah menjamin keselamatan mereka (seluruh rakyat Najran), serta keselamatan dan kemerdekaan para pendeta yang mengajarkan agama (Kristen Nestorian) mereka.[11] Dengan rasa toleransi pula, manusia akan mampu memiliki kepekaan terhadap sesama manusia, kepada rasa bahagia maupun sakitnya, sehingga lahirlah kemampuan dalam menciptakan perdamaian universal, atau dalam istilah Shah Akbar dari dinasti Mughal adalah Sulh-I-Kul (Damai Untuk Semua).

3. Urgensi dan Penerapan
Sejauh ini kita telah menganggap pendidikan modern yang berorientasi kepada kemajuan fisik telah cukup bagi bangsa Indonesia. Rohadi & Sudarsono sebagaimana mengutip Fuad Hasan juga mengungkapkan bahwa kemajuan teknik tidak saja membuktikan kekuatan serta daya manusia untuk menguasai alam, kemudian teknik itu tidak saja membebaskan manusia akan tetapi juga memperlemah dan serta memperbudaknya, kemajuan itu memekanisasikan manusia dan menimbulkan gambaran manusia sebagai mesin.[12] Pendapat ini cukup baik untuk diingat oleh civitas akademika serta jajaran struktural Universitas Sriwijaya. Bukan tanpa alasan, sejauh ini nampaknya manifestasi penekanan pengembangan intelektual di perguruan tinggi tersebut masih diarahkan pada bentuk yang tersebut di atas. Contoh yang paling nyata ialah dalam perhelatan seleksi Mahasiswa Berprestasi di Universitas Sriwijaya, tiga tahun berturut-turut ide-ide yang keluar sebagai pemenang ialah yang berkaitan dengan “penggunaan benda” seperti pembuatan Pop-Up Book sebagai media belajar (2013), pemakaian Instagram sebagai media pendidikan (2014), ataupun optimalisasi Google Hangouts dalam perkuliahan (2015). Tidak ada yang menafikan “kecemerlangan” dari usaha para mahasiswa-mahasiswi itu, namun ada baiknya agar jangan sampai pembangunan intelektual justru terperosok pada satu lubang ‘paradigma empirisme.’ 

Paradigma empirisme atau positivisme hanya mengakui pengetahuan yang bersumber dari pengalaman empiris-indrawi, menganggap pengetahuan lain diluarnya adalah hal ilusif dan subjektif belaka sebagai akibat dari munculnya doktrin “sains bebas nilai” ;  bahwa sains sama sekali tidak berurusan dengan nilai dan makna.[13] Pemikir Barat seperti Ludwig von Bertalanffy  pun mengakui bahwasannya, “Pengetahuan kita (Barat) tentang fisika sungguh mengagumkan. Sains biologi kita (Barat-Pen) juga telah memadai untuk boteknologi dan kedokteran modern. Akan tetapi, yang tidak ada pada kita adalah pengetahuan tentang manusia dan kebudayaan. Oleh karena itu, capaian yang tinggi dalam fisika memungkinkan kita lebih efektif melakukan kehancuran dan kerusakan di muka bumi melalui perang berteknologi tinggi, alih-alih membangun keadilan dan kesetaraan. Kecanggihan bioteknologi dan kedokteran kita tidak mampu menghilangkan kelaparan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang paling mencolok di dunia modern.”[14] Ada kalanya paradigma empirisme dibutuhkan dalam berbagai kegiatan berpikir, namun untuk membangun pribadi manusia seutuhnya tentu tak bisa hanya menggunakan satu paradigma saja. 

Kecenderungan manusia menekankan hal-hal lahiriah saja, secara domino juga ikut membentuk lahan yang subur bagi esktrimisme agama dan motivasi tindak kekerasan. Dapat dicontohkan, jika seorang Muslim melihat pemeluk agama lain lalu ia mengambil tindakan kekerasan secara fisik, itu sama saja ia melihat secara fisik dan bertindak dengan fisik pula. Namun apabila ia bisa melakukan tindakan berpikir serta pemaknaan yang mendalam, ia akan tahu bahwasannya masalah keimanan – sekalipun terkadang akan membuat seseorang menujukkan imannya itu secara fisik contohnya dalam tata cara berpakaian – ialah perkara Allah yang akan mengadilinya secara eskatologis, dan pengadilan eskatologis bukanlah “pengadilan” sebagaimana yang kita ketahui di alam materi ini. Jika prioritas arah intelektual itu hanya sebatas pada perkara-perkara fisik-materialistik (kebendaan) saja, tak jarang manusia melalaikan beragam nilai yang tak nampak oleh inderawi seperti kasih sayang sesama manusia, nilai kejujuran, dan kesadaran bahwa hidup adalah amanat dari Tuhan yang Esa. 

Langkah dasar untuk melakukan penerapan Neo-Sutarto ialah melalui penyediaan literatur yang mumpuni, tidak melulu dalam kajian penerapan ibadah, melainkan secara fundamental adalah karya-karya yang mengkaji kesejarahan Islam dan kontribusi sebenarnya peradaban Islam kepada dunia.  Beberapa contoh buku yang amat otoritatif untuk hal ini, sebut saja karya-karya Karen Armstrong yang telah banyak diterjemahkan seperti Sejarah Tuhan, dan Berperang Demi Tuhan. Kedua karya ini bisa meluruskan asumsi yang salah tentang Islam, entah secara internal ataupun yang berasal dari luar umat Islam. Pengkajian Neo-Sufisme yang telah dilakukan oleh beberapa pemikir Islam Indonesia dan bahkan dunia di era modern. Sebut saja pemikir seperti Fazlur Rahman dengan karyanya Islam, Sayyed Hossein Nasr Living Sufism (dalam karya terjemahan adalah Tasawuf Dulu dan Sekarang), dan tokoh-tokoh pemikir Islam dunia lainnya. Lalu, untuk pemikir Islam Indonesia kita akan dapatkan nama seperti Nurcholish Madjid dalam karyanya Islam Agama Peradaban, Nasaruddin Umar dan Hamka dalam Tasawuf Modern dan Haidar Bagir dalam Tasawuf Positif. 

Apabila wawasan pengetahuan tentang Neo-Sutarto telah terbuka, yang artinya kekayaan khazanah pemikiran sudah banyak diakses, maka berikutnya yang perlu diambil ialah menghidupkan beragam aktifitas berpikir-diskursus yang berlandaskan gagasan ini. Untuk itu setidaknya dibutuhkan tiga aktifitas utama di bawah otoritas kampus. Pertama adalah dengan mentoring, kampus wajib memilih para mentor yang berkomitmen menjalankan pembimbingan pada mahasiswa, bukan hanya dalam kegiatan pertemuan keagamaan melainkan pula dalam setiap kondisi. Jika perlu, para mentor diberikan hak untuk mempelajari sekaligus meneliti pemikiran-pemikiran dan trend apa yang tengah berkembang di dunia kampus, sekaligus meninjau literatur-literatur apa yang banyak diserap mahasiswa secara komprehensif. Bukan dalam maksud membatasi kebebasan berpikir, tetapi dengan cara ini akan diperoleh gambaran mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Para mentor wajib menyerahkan laporan setidaknya dua kali dalam setahun.

Kedua adalah sosialisasi secara berkesinambungan dan menyeluruh dalam meluaskan penerapan gagasan Neo-Sutarto. Hal yang paling urgen di masa kini adalah kerjasama dengan berbagai pihak terkait, utamanya adalah kepolisian. Selain menjadi benteng bagi tindakan intoleransi (kekerasan beragama), pihak kepolisian dapat menjadi sumber paling valid bagi pencegahan tindak kriminal umum lainnya. Tentu pihak universitas perlu menerapkan sistem jemput bola, bukan hanya sekadar menunggu adanya sosialisasi yang datang dari kepolisian ke dalam kampus. Para mentor yang telah dipilih sebelumnya dapat berperan memberikan wacana-wacana tema sosialisasi ataupun tema diskusi yang di dalamnya akan melibatkan pihak kepolisian. Diskusi-diskusi ilmiah tersebut bahkan juga dapat disisipkan dalam beragam acara yang sifatnya rekreatif, kita ambil dua contoh sederhana ialah dalam pagelaran musik ataupun pemutaran film. Musik bisa menjadi media yang kuat dalam menyampaikan gagasan Neo-Sutarto, maka tidak ada salahnya sesekali diadakan kegiatan pertunjukan musik yang diselingi dengan diskusi terstruktur. Para musisi yang diundang harus yang memiliki komitmen untuk menyampaikan cinta kasih universal dalam karya-karyanya sehingga dapat menjadi tema dalam perhelatan diskusi. Film dalam bahasa Inggris adalah Movie (kb) yang berarti “Gambar Bergerak”. Kini film-film yang beredar di pasaran bukan hanya menjadi hiburan saja, melainkan telah pula menjadi tren bagi kehidupan masyarakat. Pemutaran film yang direkomendasikan di sini tentu yang mempunyai kualitas nilai pemaknaan tinggi, contohnya ialah film Iran yang berjudul Span of Heaven (Sejengkal Surga) ; kisahnya dapat menjadi pelurusan bagi orang-orang “Penyembah Surga” yang telah menyebabkan banyak pemuda tergelincir menjadi “Pengantin” bom bunuh diri, padahal sejatinya tujuan hidup kita ialah menjadi “Penyembah Sang Pencipta Surga” (Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa). 

Ketiga, perlunya diciptakan atmosfer Neo-Sutarto dalam kehidupan kampus Universitas Sriwijaya seperti melakukan pembanguan monumental yang dapat mempengaruhi kognisi inderawi mahasiswa yakni dengan menciptakan tugu ataupun menambahkan seni mural pada lokasi-lokasi yang banyak mahasiswa berkumpul. Tugu ataupun seni rupa yang diciptakan harus memiliki makna, seumpamanya ialah dengan mengutipkan bagian-bagian karya dari Ulama-Intelektual Palembang Abad Ke-18, Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani, kitab Hidayatus Shalikin-nya banyak memuat ajaran-ajaran cinta kasih pada sesama. Di kuar konteks keagamaan, dapat pula dibuat relief penggambaran kerjasama antar-elemen identitas di Sumatera Selatan, contoh yang paling dekat adalah ketika pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sumatera Selatan, segala lapisan dan golongan masyarakat yakni politisi, militer, pedagang, masyarakat Palembang serta suku-suku Uluan, suku Minang, kaum Tionghoa, kalangan penduduk keturunan Arab, seluruhnya bersatu padu serta bekerja sama melawan penjajahan. Penciptaan atmosfer itu bisa diterapkan melalui cara-cara lain seperti dengan keterampilan videografi (Unsri memiliki UKM pada bidang ini) atau melalui pertunjukan teatrikal maupun reka ulang adegan. 

4. Penutup 
Dua ironi yang melibatkan mahasiswa dan mahasiswi Unsri itu memang harus disayangkan. Tapi, dibandingkan dengan hanya memberi hujatan dan dakwaan, baiknya kita memandangnya sebagai sebuah peringatan dan “pengingatan” bagi penulis pribadi dan kita semua. Mencegah tindak kekerasan tentunya adalah hak setiap individu, namun apakah itu menjadi alasan untuk menutup mata terhadap realitas kehidupan manusia lainnya ? Menjauhi kekerasan dan kejahatan hanya bisa dilakukan dengan meninggikan rasa cinta kasih sayang universal seperti yang kita dapat dari ajaran keagamaan. Tulisan ini memang hanya masukan dan tidak bermaksud memberikan penghakiman. Tentu pendapat ini tidak lepas dari kekurangan. Semoga di kemudian hari akan ada para ahli, pemerhati, ataupun pemangku kebijakan yang lebih mafhum dalam memberi solusi bagi masalah terkait : agar tidak ada yang melalaikan moto universitas ini “Ilmu Alat Pengabdian”, agar terwujud insan-insan yang mampu menciptakan Coniugit, Illuminate, Confirma bagi sesama.

Catatan Kaki :
1. www.tandaseru.id 1 April 2018
2. www.liputan6.com 31 Maret 2018
3. Yuarsa, Feris, 2016, Mohamad Isa : Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. H.135.
4. www.sumsel.tribunnews.com 18 Februari 2015
5. Pramasto, Arafah, dkk., 2018, Makna Sejarah Bumi Emas : Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-Tema Lain, Bandung : Ellunar Publisher. Hlm. 58.
6. Malaka, Tan, 2014, MADILOG, Yogyakarta : Narasi.Hlm.30.
7. Pramasto, Arafah, 2013, “Penerapan Gagasan Neo-Sutarto dalam Menciptakan Perdamaian dan Kecerdasan Masyarakat”, (Makalah diajukan pada kompetisi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)Hlm.12.
8. Umar, Nasaruddin, 2014, Tasawuf Modern, Jakarta : Republika.Hlm.6.
9. Husein, Fatimah, Fazlur Rahman’s Islamic Philosophy, Tesis Tidak Diterbitkan, Montreal : Institute of Islamic Studies McGill University, 1997. Hlm.37.
10. Ni’am, Syamsun, 2014, Tasawuf Studies, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Hlm.122.
11. Arifin, Bey, 1996, Rangkaian Cerita dalam Al-Quran, Bandung : Al-Ma’arif. Hlm.438.
12. Sudarsono, 2005, Ilmu dan Teknologi dalam Islam, Jakarta : Departemen Agama RI.Hlm.203.
13. Awani, Ghulam Reza, dkk.,Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta Rausyan Fikr, 2012. Hlm.350.
14. Bertalanffy, Ludwiq Von, 1973, General System Theory, Middlesex : Penguin Books.Hlm.51.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.