Header Ads

BURSAH ZARNUBI : AYO BELANJA DI WARUNG TETANGGA, BANTU PEREKONOMIAN UMAT

Oleh : *Bakrun Satia Darma*
(Lahat Kata Kita)

Suatu ketika saat mengikuti Bursah Zarnubi Calon Bupati Lahat untuk sebuah acara, kendaraan dihentikan  untuk membeli sesuatu, di warung pinggir jalan, Bursah Zarnubi turun dan berbelanja sesuatu.

Bursah Zarnubi memilih berbelanja di warung kecil daripada berbelanja di Mini Market serba ada yang berada tak jauh di samping warung tersebut*.

Iseng bertanya, mengapa diwarung kecil bukan di Mini Market, dengan singkat Bursah ZARNUBI menjawab "membangkitkan perekonomian dan silaturahmi"

Semua barang memang terpampang. Tapi, hampir tak ada interaksi kemanusiaan. Apalagi pertemanan dan persaudaraan

Bertahun-tahun kita menjadi pelanggan, yang bahkan dibuktikan dengan “kartu pelanggan”, tapi sungguh penjualnya tetap tidak kita kenal.

Bahkan pelayanpun kita tak tahu siapa, apa dan bagaimana kehidupan mereka. Komunikasi hanya dengan “pelayan”, ingat bukan “penjual”. Dan hanya seputar transaksi saja. Itupun sekarang diwakili dengan tulisan.

Untuk itu, Berbelanja lah di warung tetangga.

Sementara ketika kita membeli di warung tetangga, selain dekat, juga ada interaksi sosial kemasyarakatan yang akrab. Ada “obrolan”, bukan sekedar transaksi barang yang menghilangkan nilai sosial kemanusiaan kita. Kita jadi tahu, kenal dan dekat dapat silaturahmi dengan masyarakat dan lingkungan. Komunikasi beginilah yang manusiawi. Yang menghubungkan antar orang, komunitas dan masyarakat. Bukan sekedar barang, angka penjualan dan plastik kemasan.

Membeli di warung tetangga *akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga itu*. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga. Suami, istri dan anak-anaknya. Dan mereka, berperan sebagai penjual.

Berwirausaha, bukan sekedar menjadi pelayan dari para pemilik modal kapitalis liberal yang berdalih seragam karyawan. Bayangkan, sampai umur berapa toko-toko modern mau mempekerjakan para pelayan ini? *Cuma saat usia muda saja*. Sedang dengan menjadi “penjual” sebenarnya mereka akan “terhidupi” bahkan sampai anak-anak mereka dewasa.

Ya benar, dengan membeli kebutuhan sehari-hari, maupun mingguan di warung atau toko tetangga, kita telah membantu menggerakkan pundi-pundi ekonomi sebuah keluarga.

Untung lima ratus rupiah untuk setiap produk yang terjual, Insyaa Allah peruntukannya jelas bagi masa depan putra-putri pemilik warung, hari tua pemilik warung, hingga karyawan yang biasanya berasal dari warga sekitar.

Namun, jika semua orang mulai meninggalkan toko dan warung tetangga, lalu darimana keluarga yang mengandalkan penghasilan dari toko memperoleh pendapatan? Yang besar akan semakin besar, yang kecil akan semakin tenggelam.

Ayo Bersilaturahmi, Ayo Belanja di warung tetangga, sebagai salah satu membangkitkan perekonomian umat

*Menata Kota*

*Membangun Desa*

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.